Selasa, 20 Mei 2014

Pelatihan Konsultan dan Fasilitator Proyek Perubahan Iklim

Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam proyek “kajian Kerentanan Kesehatan Akibat Perubahan Iklim : Penilaian, Pemetaan, dan Adaptasi Berbasisi Masyarakat pada Penyakit DBDB dan Malaria” adalah memfasilitasi masyarakat untuk menyusus rencana kerja yang berisis strategi adaptasi masyarakat untuk menghadapi perubahan iklim yang akan berpengaruh terhadap insiden DBD dan Malaria.
Pada tanggal 28 April – 2 Mei 2014, telah dilaksanakan ToT (Training of Trainer) dengan metode Partoisipatory Adaptation Climate Change Transformation for Dengue Hemoragic Fever and Malaria bagi konsultan dan fasilitator masyarakat yang telah ditunjuk.



Konsultan dan fasilitator yang ditunjuk bersal dari Provinsi Sumatera Barat dan Jawa Timur. Pelatihan yang diadakan selama 5 hari ini bertujuanagar konsultan dan fasilitator mampu memfasilitasi pemberdayaan masyarakat dengan metode partisipatif berkaitan dengan adaptasi perubahan iklim.
Hari pertama pelatihan dibuka, para peserta diberikan bekal materi mengenai Kebijakan Adaptasi Perubahan Iklim, Strategi Adaptasi Perubahan Iklim, dan Materi Anti Korupsi.


Narasumber di hari pertama dalam pelatihan dengan Metode PACCT for DHF and Malaria.


Foto bersama seluruh peserta pelatihan dengan metode PACCT

Pelatiahan ini merupakan pelatihan menggunakan metode terbaru yang diharapkan lebih inaovatif karena memakai media gambar sehingga masyarakat dapat berperan aktif dengan menebak dan menceritakan apa yang dimaksud dalam gambar.

Peserta pelatihan diminta untuk membuat alur penyebaran penyakit malaria dengan menggunakan gambar-gambar yang diberikan. Setelah gambar-gambar tersebut dirangkai. Salah satu peserta perwakilan dari kelompok menjelaskan apa yang dimaksud dari alur penyebaran penyakit yang telah dibuat kepada kelompok lain. Alur yang dibuat oleh peserta belum tentu benar sehingga kelompok lain diminta untuk memberikan kritik, sanggahan, atau saran untuk menyempurnakan alur penyebaran yang telah dibuat. Hal ini membuat informasi yang didapatkan masyarakat menjadi luas karena semua peserta diberikan kesempatan untuk memberikan argumentnya. Selain itu dalam pelatihan ini ada fasilitator atau narasumber yang mendampingi sehingga topik pemicaraan tidak keluar dari bahasan dan dapt mengkoreksi apa yang disampaikan oleh peserta.




Selain Pelatihan ini memberikan materi dan contoh bagi konsultan dan fasilitator daerah nantinya, dalam pelatihan ini peserta diajak untuk langsung mempraktikan seluruh metode yang telah diajarkan kepada masyarakat secara langsung. Untuk itu dihari ke-4, peserta diajak ke daerah Penggilingan, Kec. Cakung, Jakarta Timur untuk praktik lapangan. Peserta dibagi menjadi 2 kelompok yang terdiri dari 17 orang untuk masing-masing kelompok untuk mempraktikan Metode PACCT DBD dan Metode PACCT Malaria.
  

Gambar saat Peserta pelatihan melakukan pratik ke masyarakat di Cakung, Jakarta Timur
Kelompok ini memberikan pemberdayaan masyarakat dengan metode PACCT DBD

Gambar saat Peserta pelatihan melakukan pratik ke masyarakat di Cakung, Jakarta Timur
Kelompok ini memberikan pemberdayaan masyarakat dengan metode PACCT Malaria

Hasil pelatihan ini pula diminta bagi konsultan dan fasilitator daerah untuk membuat rencana kerja pemberdayaan terhadap masyarakat di daerah masing-masing yang berkaitan dengan adaptasi perubahan iklim terhadap DBD dan Malaria

Jumat, 03 Januari 2014

Rangkaian Kegiatan Lokakarya II Telah Selesai Dilaksanakan

Selain di Sumatera Barat dan DKI Jakarta, kegiatan lokakarya II juga telah diadakan di tiga provinsi lainnya, yaitu Bali, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah. Sehingga, dapat dikatakan bahwa rangkaian kegiatan lokakarya II telah selesai dilaksanakan dengan rincian sebagai berikut:
No.
Lokasi Kajian
Waktu Pelaksanaan
Tempat Pelaksanaan
1
Sumatera Barat
21 – 22 Juni 2013
Hotel Axana, Padang
2
DKI Jakarta dan sekitarnya
19 – 20 September 2013
Hotel Alila, Jakarta
3
Bali
30 September – 2 Oktober 2013
Aston Kuta Hotel and Residence, Kuta
4
Jawa Timur
13 – 14 Oktober 2013
Hotel Inna Simpang, Surabaya
5
Kalimantan Tengah
26 – 27 November 2013
Hotel Amaris, Palangkaraya

Rangkaian kegiatan lokakarya II ini adalah sebagai salah satu kegiatan kerjasama Kementerian Kesehatan dengan Research Center for Climate Change (RCCC-UI) dan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dalam penelitian yang berjudul “Kajian Kerentanan Kesehatan Akibat Perubahan Iklim: Penilaian, Pemetaan, dan Adaptasi Berbasis Masyarakat pada Demam Berdarah Dengue dan Malaria” dan sebagai lanjutan dari kegiatan lokakarya I. Secara umum, kegiatan lokakarya II ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan dan pembuat kebijakan, sebagai peserta kegiatan ini, dalam mengantisipasi kecenderungan peningkatan kasus penyakit DBD dan malaria akibat perubahan iklim berdasarkan pada informasi keterkaitan antara perubahan iklim dengan pernyakit DBD dan malaria, termasuk distribusi populasi yang rentan. 

Kegiatan lokakarya II di Provinsi Bali sebagai salah satu rangkaian kegiatan lokakarya II di lima provinsi.

Sama seperti kegiatan lokakarya II yang telah dilaksanakan sebelumnya, yaitu lokakarya II di Sumatera Barat dan DKI Jakarta, kegiatan lokakarya II di Provinsi Bali, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengahpada hari pertama adalah presentasi dari tim peneliti mengenai cara pengolahan serta analisis data kesehatan dan spasial hingga diperoleh informasi yang dapat disajikan dalam presentasi. Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi hasil pengolahan data DBD, Malaria, dan iklim oleh peserta. Untuk Provinsi Bali, peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, dan Kabupaten Badung. Sebelumnya, masing-masing kelompok melakukan pengolahan data untuk wilayahnya masing-masing sehingga peserta memperoleh gambaran mengenai kondisi penyakit di maisng-masing wilayah tersebut. Untuk Provinsi Jawa Timur, peserta dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kelompok Kota Surabaya, Kabupaten Malang, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pasuruan, dan kelompok Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan untuk Provinsi Kalimantan Tengah, peserta dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok Kota Palangkaraya, Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Kabupaten Kotawaringin Timur.


Senin, 23 Desember 2013

Pertemuan TWGCC (9-12 Desember 2013)

Pada tanggal 9 – 12 Desember 2013, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bekerja sama dengan World Health Organization (WHO) dan United Nations Environment Programme (UNEP) menyelenggarakan pertemuan “The Thematic Working Group on Climate Change, Ozone Depletion and Ecosystem Changes of The Regional Forum on Environment And Health In South-East And East Asian Countries (TWGCC)” bertempat di Hotel JW Marriot, Jakarta.

Kegiatan pertemuan TWGCC tersebut bertujuan untuk:
  1. menyampaikan pemutakhiran informasi tentang program da nkegiatan yang sudah dilaksanakan terkait dengan perubahan iklim dan kesehatan;
  2. membahas tentang hasil COP19 yang terkait dengan perubahan iklim dan kesehatan;
  3. melakukan review terhadap rencana kerja TWGCC dan menyusun peta jalan untuk memperkuat kolaborasi regional;
  4. mencari peluang pendanaan utnuk peta jalan yang akan disusun; dan
  5. meningkatkan kegiatan kampanye dan pelatihan bagi negara anggota.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh delegasi (environment and health officers) negara-negara anggota TWGCC, meliputi Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, Indonesia, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Filipina, Republik Korea, Thailand, dan Vietnam; delegasi negara pengamat, meliputi Bangladesh, Bhutan, Kiribati, Nepal, Samoa, Solomon Islands, Timor Leste, dan Vanuatu; duta besar Swiss; pengamat organisasi internasional dan kerjasama bilateral; dan narasumber dari berbagai institusi. Narasumber tersebut antara lain:
  1. Prof. Masahiro Nashizume (Nagasaki University, Jepang);
  2. Prof. Hae-Kwan Cheong (Sungkyunkwan University, Korea);
  3. Dr. Ram Lal Verma (AIT-UNEP Regional Resource Centre for Asia and the Pacific, Thailand);
  4. Dr. Kristie L. Ebi;
  5. Dr. Simon Hales; dan
  6. Prof. Dr. Rizaldi Boer (CCROM, Indonesia).
Kegiatan pada hari pertama diisi dengan presentasi dari negara-negara anggota tentang kondisi perubahan iklim dan upaya yang telah dilakukan dalam melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim yang dihadapi, khususnya terkait dengan bidang lingkungan dan kesehatan. Materi dari narasumber disampaikan secara tersebar dari hari pertama hingga hari ketiga. Pada hari kedua, peserta dari negara anggota maupun negara pengamat melakukan diskusi secara berkelompok tentang fokus prioritas dan tantangan dalam menghadapi perubahan iklim di negara masing-masing. Peserta juga mendiskusikan kebutuhan negara masing-masing terkait dengan adaptasi perubahan iklim untuk sektor kesehatan. Pada hari ketiga, setiap kelompok menyajikan hasil diskusinya untuk saling bertukar informasi. Kegiatan pada hari keempat diisi dengan perumusan rencana kegiatan TWGCC di masa mendatang dan rekomendasi dari pertemuan yang telah dilakukan untuk diinformasikan kepada pemangku kepentingan (pemerintah dan di negara masing-masing.

Berikut adalah rekomendasi dari pertemuan TWGCC pada 9 – 12 Desember 2013 dalam meningkatkan perhatian negara masing-masing terhadap isu perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan.
  1. Mengintegrasikan aspek lingkungan dan kesehatan dalam menyusun kebijakan dan program terkait perubahan iklim pada sektor lingkungan dan kesehatan, lalu mengintegrasikannya ke dalam kebijakan, strategi, peraturan, dan strategi adaptasi nasional;
  2. Memberikan dukungan yang diperlukan untuk menjamin implementasi rencana kegiatan TWGCC;
  3. Meningkatkan keterlibatan aspek kesehatan masyarakat dalam proses perubahan iklim pada tingkat nasional, regional, dan internasional dengan cara:
    • mengembangkan strategi adaptasi nasional sektor kesehatan secara komprehensif sesuai dengan prioritas adaptasi jangka menengah dan jangka panjang
    • mempromosikan aspek kesehatan dan melaporkan keuntungan tambahan dari kebijakan dan tindakan mitigasi yang dilakukan pada tingkat nasional kepada UNFCCC;
    • mengajukan kepada UNFCCC untuk mempertimbangkan rekomendasi pertemuan ini dan memasukkannya ke dalam laporan UNFCCC kepada anggota sesuai dengan permintaan anggota pada CoP19 terkait masukan tambahan pada sektor kesehatan di bawah Nairobi Work Programme untuk adaptasi perubahan iklim;
    • meminta representasi dari ahli kesehatan terkait dengan mekanisme dukungan teknis kepada UNFCCC, termasuk Least Developed Countries Expert Group (LEG), untuk melibatkan ahli kesehatan masyarakat yang dimiliki oleh masing-masing anggota;
    • mengajukan kepada Green Climate Fund (GEF) untuk mempertimbangkan kemungkinan pembukaan aliran dana spesifik untuk adaptasi sektor kesehatan;
    • mengajukan kepada focal point dari GEF politis dan operasional di negara masing-masing untuk merekomendasikan GEF dalam menjamin memadainya pembahasan isu kesehatan dalam komunikasi nasional;
  4. Menggalakkan dan meningkatkan kepedulian terhadap hasil temuan WHO Synthesis Report on Climate Change and Health in the West-Pacific Region dan juga laporan dan penelitian terkait lainnya di wilayah Asia Pasifik, khususnya di negara-negara anggota RFEH;
  5. Mengupayakan pencapaian tujuan RFEH terkait penguatan dalam pengaturan kelembagaan dan kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kesehatan di tingkat nasional, pembentukan atau penguatan lembaga-lembaga bidang kesehatan dan lingkungan, meningkatkan pertukaran pengalaman dan pembelajaran di antara negara-negara anggota, termasuk dalam meningkatkan kajian dampak kesehatan dan lingkungan sebagai instrumen dalam mempertimbangkan dampak kesehatan dari seluruh kebijakan dan program adaptasi dan mitigasi;
  6. Membangun atau memperkuat sistem surveillance kesehatan dan lingkungan sehingga memungkinkan pengukuran dampak kesehatan dan lingkungan yang saling terhubung satu sama lain, serta untuk mengidentifikasi risiko yang mungkin muncul;
  7. Mengevaluasi keuntungan kebijakan mitigasi untuk sektor kesehatan, termasuk keuntungan tambahan yang dapat dicapai dengan cara mengurangi pencemaran udara bersamaan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca;
  8. Di samping memperbaiki pelayanan kesehatan, negara anggota juga perlu meningkatkan ketahanan kesehatan dan berkontribusi dalam menghijaukan pelayanan kesehatan dan fasilitasnya denggan cara memperbaiki akses energi dan efisiensi energi, air dan sanitasi, dan manajemen limbah di sektor kesehatan;
  9. Mengembangkan atau memperbarui kerangka kerja operasional pada skala nasional, sub-regional, dan regional dalam membangun sistem kesehatan yang tahan terhadap perubahan iklim sehingga dampak kesehatan dari variabilitas dan perubahan iklim dapat ditangani dengan lebih baik, dan untuk menjamin bahwa sistem kesehatan mampu mengantisipasi, merespon, menangani, memulihkan diri, dan beradaptasi terhadap shock dan stres terkait iklim, termasuk juga dalam menciptakan perbaikan yang berkelanjutan untuk kesehatan masyarakat terlepas dari kondisi iklim yang tidak stabil;
  10. Memberikan dukungan terhadap penguasaan pengetahuan dan manajemen di bidang adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sektor kesehatan, khususnya melalui peningkatan kajian aplikatif di tingkat lokal, sub-regional, dan regional, bersamaan dengan menjamin koordinasi publikasi scientific dan teknis untuk mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dan prioritas penelitian, serta untuk mendukung pendidikan dan pelatihan pada berbagai level;
  11. Mengajukan kepada kelompok kerja perubahan iklim ASEAN untuk mempertimbangkan dampak kesehatan dari perubahan iklim dan menyelenggarakan pertemuan untuk membahas topik tersebut, termasuk perwakilan dari sektor-sektor yang dapat mempengaruhi kesehatan (antara lain pangan dan pertanian, air, energi, perumahan, dan perencanaan tata kota).
Dari pertemuan TWGCC juga diperoleh rekomendasi untuk WHO, UNEP, dan partner pembangunan lainnya, antara lain sebagai berikut.
  1. Membantu negara-negara anggota RFEH dan negara lainnya di Asia Pasifik untuk berbagi pengalaman, mengembangkan kapasitas, dan membangun mekanisme pemantauan dalam proses memenuhi komitmen yang dibuat pada pertemuan ini, melalui peer review, dalam rangka memberikan masukan kepada UNFCCC dan mengembangkan agenda pasca-2015;
  2. Mendukung implementasi rekomendasi ini, dan meningkatkan upaya advokasi dalam mobilisasi sumber daya dan memperoleh investasi tambahan untuk memperkuat strategi bidang kesehatan dan lingkungan;
  3. Memberikan dukungan teknis dalam penentuan komponen kesehatan dari rencana adaptasi nasional sehingga dapat tersusun rencana yang komprehensif dan dapat mengakomodasi prioritas adaptasi jangka menengah dan jangka panjang, antara lain melalui penerapan kerangka kerja operasional untuk membangun sistem kesehatan yang tahan terhadap iklim, workshop regional, dan penyediaan dukunngan dana tambahan sehingga rencana adaptasi nasional di bidang kesehatan dapat disusun dengan melibatkan juga pemangku kepentingan terkait di tingkat nasional;
  4. Memfasilitasi akses terhadap pendanaan yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan rencana adaptasi nasional bidang kesehatan (Health National Adaptation Plans; H-NAPs) melalui pembuatan repository online dari seluruh H-NAPs dan dokumen teknis terkait di tingkat nasional (contohnya Synthesis Report on Climate Change and Health in the West-Pacific dan penelitian terkait lainnya di wilayah Asia Tenggara).
Tempat pelaksanaan pertemuan TWGCC berikutnya masih dirundingkan oleh negara-negara anggota. Pertemuan tersebut kemungkinan akan dilaksanakan pada tahun 2015.


Kamis, 19 Desember 2013

Turun Salju di Kairo Dampak dari Perubahan Iklim.

Pemanasan global telah membuat penyimpangan iklim yang mulai dirasakan manusia. Kejadian aneh pun terjadi di Kairo. Pasalnya pada 13 Desember lalu, Kairo diselimuti saju akibat badai salju yang terjadi di Timur Tengah.

Cuaca aneh tersebut terjadi karena rendahnya curah hujan, dan suhu musim dingin yang selalu berada di atas titik beku. Salju merupakan suatu fenomena yang sangat tidak umum di Kairo. Kota ini sebenarnya pernah mengalami kejadian serupa pada satu abad yang lalu.

“Ini adalah yang pertama sejak bertahun lamanya,” ungkap Pejabat pusat Meteorlogi Kairo, Ali Abdelazim bahkan sangat terkejut dengan peristiwa tersebut.

Dilansir dari Huffington Post, ternyata tak semua penduduk Mesir senang dan gembira melihat salju yang tak pernah mereka temui sebelumnya. Pasalnya sejumlah pengungsi Suriah diwilayah tersebut harus berhadapan dengan udara yang sangat dingin, tetapi mereka hanya memiliki peralatan yang minim.

Kejadian langka ini ternyata tidak hanya terjadi di Mesir, kejadian ini juga pernah terjadi di Israel. Di tahun 1953 ketika cuaca dan badai ekstrim menghantam Israel, negara ini di terpa salju. Tetapi salju tersebut bukan membawa kegembiraan malah menyebabkan warga Israel harus mengungsi dan meninggalkan rumahnya.

Sumber: Yahoo.com

Kamis, 17 Oktober 2013

Sekilas Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang pada umumnya ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. DBD dapat menyerang berbagai kalangan, tetapi biasanya DBD pada anak-anak menunjukkan gejala yang lebih ringan dibandingkan dengan DBD pada orang dewasa. Penyakit ini ditandai dengan panas tinggi, perdarahan dan dapat menimbulkan renjatan (shock) dan kematian.

Sejak pertama kali ditemukannya DBD di Indonesia pada tahun 1968 di Surabaya, penyakit ini terus mengalami peningkatan kasus dan perluasan wilayah penyebaran. Pada tahun 1968 wilayah endemis DBD hanya 2 provinsi dan 2 kota, lalu pada tahun 2009 meningkat menjadi 32 provinsi dan 382 kab./kota. Jumlah kasus DBD pada tahun 1968 yang tercatat sebesar 58 kasus selanjutnya mengalami peningkatan yang cukup drastis mencapai 158.912 kasus pada tahun 2009.


Gambar 1. Angka insiden DBD per 100.000 penduduk di Indonesia tahun 1968–2009
(Sumber gambar: Ditjen PP dan PL Depkes RI [2009] dalam Kementerian Kesehatan [2010])
Beberapa penyebab meningkatnya kasus tersebut antara lain pesatnya tingkat urbanisasi sehingga menyebabkan bertambahnya kepadatan penduduk di wilayah perkotaan, kurangnya sistem pengendalian nyamuk yang efektif, dan melemahnya struktur kesehatan masyarakat. Perubahan iklim global juga ditengarai sebagai penyebab meningkatnya risiko penularan DBD karena perubahan iklim dapat menyebabkan perubahan bionomik vektor DBD, misalnya perubahan pada perilaku menggigit nyamuk dan memendeknya siklus hidup nyamuk dari telur hingga dewasa. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan indeks curah hujan (ICH) selalu diikuti dengan peningkatan kasus DBD di beberapa provinsi di Indonesia.


Penyebab DBD

Virus Dengue

Penyakit DBD disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes sp. yang terinfeksi virus Dengue. Virus Dengue tersebut memiliki empat jenis serotipe, yaitu Den-1, Den-2, Den-3, dan Den-4. Keempat serotipe virus Dengue dapat ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Gambar 2. Struktur virus Dengue
(Sumber gambar: Kementerian Kesehatan RI, 2011)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Den-3 berkaitan erat dengan kasus DBD berat di Indonesia dan serotipe ini memiliki sebaran yang paling luas di antara ketiga serotipe lainnya, diikuti oleh Den-2, Den-1, dan Den-4. Infeksi dari salah satu serotipe virus Dengue pada manusia dapat menyebabkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe tersebut, tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap serotipe lainnya sehingga dapat terjadi infeksi lagi oleh serotipe lainnya.

Vektor DBD

Gambar 3. Nyamuk Aedes aegypti (kiri atas), jentik Aedes aegypti (kanan atas),dan daur hidup Aedes aegypti
(Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/3e/Aedes_aegypti_feeding.jpg dan http://medent.usyd.edu.au/photos/pupa_larvae.jpg )
Vektor utama DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (Gambar 3), sementara Aedes albopictus merupakan vektor sekundernya. Nyamuk ini dapat ditemukan di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Kedua jenis nyamuk tersebut merupakan tipe nyamuk pemukiman dengan habitat perkembangbiakan di air bersih (relatif jernih). Jentik nyamuk Ae. aegypti banyak ditemukan di penampungan air buatan di dalam rumah, seperti bak mandi, ember, vas bunga, dan kaleng bekas, meskipun jentik juga dapat ditemukan di luar rumah di wilayah perkotaan. Sementara itu, tempat perkembangbiakan Ae. albopictus pada umumnya adalah penampungan air alami di luar rumah, seperti lubang pohon dan potongan bambu, yang banyak ditemukan di wilayah pinggiran kota dan pedesaan. Ae. aegypti dan Ae. albopictus dapat menghisap darah hewan dan manusia untuk memenuhi kebutuhan darahnya, tetapi nyamuk tersebut cenderung lebih memilih menghisap darah manusia.


Mekanisme Penularan DBD

Gambar 4. Siklus DBD dari infeksi pada nyamuk hingga infeksi pada manusia
(Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2011)
Penularan DBD dimulai ketika terdapat nyamuk Aedes betina terinfeksi virus karena menghisap darah penderita yang sedang berada dalam fase viremia/demam akut (antara 2 hari sebelum panas hingga 5 hari setelah demam timbul). Selanjutnya nyamuk menjadi infektif setelah 8–12 hari menghisap darah penderita dan akan terus infektif selama hidupnya. Ketika nyamuk menggigit, virus tersebut lalu ditularkan melalui cairan ludah nyamuk kepada orang lain yang belum terinfaksi. Gejala awal penyakit, seperti demam, pusing, nyeri otot, dan hilangnya nafsu makan, akan timbul secara mendadak setelah masa inkubasi di tubuh manusia (sekitar 3 – 4 hari). Apabila penderita digigit oleh nyamuk Aedes pada masa viremia tersebut, nyamuk akan terinfeksi oleh virus dan siklus penularan akan berulang.


Gejala DBD

Gejala awal DBD tidak memiliki suatu tanda spesifik. Namun gejala tersebut dapat berupa panas tinggi tanpa sebab yang jelas dan muncul secara mendadak. Panas tersebut sepanjang hari selama 2–7 hari disertai dengan badan lemah/lesu dan nyeri ulu hati. Pada penderita yang terinfeksi DBD juga akan tampak bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah di kulit (bintik merah tidak akan menghilang setelah kulit diregangkan). Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai gejala utama DBD.

1. Demam

  • Demam tinggi timbul mendadak dan terjadi sepanjang hari selama 3 – 7 hari.
  • Turunnya demam menandai fase kritis dan biasanya terjadi setelah hari ke-3 hingga 6. Pada fase kritis dapat terjadi syok/renjatan.

2. Tanda Pendarahan

  • Jenis pendarahan yang biasa terjadi pada pasien DBD adalah pendarahan kulit, antara lain petekie, purpura, ekimosis, dan pendarahan konjungtiva.
  • Untuk membedakan petekie dengan bekas gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan cara menekan bintik merah yang dicurigai dengan kaca obyek atau penggaris plastik transparan, atau dengan meregangkan kulit. Jika bintik merah menghilang saat kulit ditekan/diregangkan maka bintik tersebut bukan petekie.
  • Dugaan keras terhadap DBD dapat diperoleh dari hasil uji tourniquet dimana terdapat lebih dari 10 petekie pada area sekitar 1 inci persegi (2,8 cm x 2,8 cm) di lengan bawah bagian depan, termasuk pada lipatan siku.

3. Hepatomegali/Pembesaran Hati

  • Pembesaran hati pada umumnya ditemukan pada permulaan penyakit dan dapat diraba sekitar 2 – 4 cm di bawah lengkungan iga kanan dan procesus xifoideus.
  • Nyeri tekan pada hipokondrium kanan akan lebih tampak jelas pada anak besar daripada anak kecil.

4. Shock/Renjatan

  • Kulit teraba dingin dan lembab, khususnya pada bagian ujung hirung, jari tangan, dan jari kaki
  • Gelisah
  • Sianosis di sekitar mulut
  • Nadi cepat, lemah, kecil hingga tidak teraba
  • Perbedaan tekanan nadi sistolik dan diastolik menurun ≤ 20 mmHg


Apa yang harus dilakukan jika ditemukan orang sakit dengan gejala awal DBD?

  • Tirah baring selama demam
  • Antipiretik (parasetamol) 3 kali 1 tablet untuk dewasa, 10 – 15 mg/ kgBB/kali untuk anak-anak. Pasien tidak boleh diberikan asetosal, salisilat, dan ibuprofen karena dapat menyebabkan nyeri pada ulu hati akibat gastritis atau pendarahan.
  • Kompres hangat
  • Minum banyak (1 – 2 liter/hari), pasien dapat meminum seluruh cairan berkalori kecuali carian berwarna cokelat dan merah (susu cokelat dan sirup merah)
  • Jika terjadi kejang, jaga agar lidah pasien tidak tergigit, melonggarkan pakaian pasien, dan tidak memberikan apapun melalui mulut pasien selama kejang
  • Jika dalam 2 – 3 hari panas tidak turun atau panas turun disertai timbulnya gejala dan tanda lanjut seperti pendarahan di kulit, muntah-muntah, gelisah, dan mimisan, pasien sebaiknya segera dibawa ke dokter atau unit pelayanan kesehatan untuk mendapat pemeriksaan dan pertolongan lebih lanjut.


Cara Pencegahan DBD

Vaksin untuk pencegahan terhadap infeksi virus dan obat untuk penyakit DB/DBD belum ada dan masih dalam proses penelitian, sehingga pengendaliannya terutama ditujukan untuk memutus rantai penularan, yaitu dengan pengendalian vektornya. Pengendalian vektor DBD di hampir di semua negara dan daerah endemis tidak tepat sasaran, tidak berkesinambungan dan belum mampu memutus rantai penularan. Hal ini disebabkan metode yang diterapkan belum mengacu kepada data/informasi tentang vektor, disamping itu masih mengandalkan kepada penggunaan insektisida dengan cara penyemprotan dan larvasidasi.

1. Melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

  • Menguras dan menyikat dinding tempat penampungan air (contoh: bak mandi dan drum) minimal seminggu sekali
  • Menutup rapat tempat penampungan air (contoh: tempayan, tangki air, drum)
  • Menyingkirkan/mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air hujan

2. Pemberantasan jentik nyamuk

  • Menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik, seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi, dan mujair
  • Memberikan obat pembunuh jentik (larvasida) sesuai aturan, di tempat-tempat yang sulit dikuras atau daerah yang sulit air

3. Menghindari gigitan nyamuk

  • Tidur menggunakan kelambu anti nyamuk
  • Menggunakan obat anti nyamuk
  • Memakai obat oles anti nyamuk
  • Memasang kawat kassa di setiap ventilasi

4. Cara lainnya

  • Tidak menggantung pakaian dalam maupun luar kamar
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak
  • Mengganti air vas bunga dan minuman hewan peliharaan seminggu sekali


Referensi

  • Kementerian Kesehatan RI. 2011. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue.
  • Kementerian Kesehatan RI. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi, Vol. 2.
  • Leaflet Cegah DBD dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI tahun 2012